Pembelajaran Bahasa Indonesia

Ditulis oleh: Prof. Suyanto, Ph.D.

Bagi bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan symbol dan identitas kultural maupun politis yang menjadi rantai pengikat kuat dalam membangun kebersamaan sebagai sebuah komunitas di dalam keberanekaragaman kepentingan. Sebagai sebuah rantai pengikat, bahasa Indonesia yang dideklarasikan sebagai identitas tunggal kebahasaan lebih dari setengah abad yang lalu telah teruji mampu mempersatukan beragam kepentingan dan latar belakang etnis maupun agama. Berdasarkan hal ini maka sudah selayaknya revitalisasi penggunaan bahasa Indonesia melalui program pembelajaran di sekolah harus selalu ditingkatkan dari hari ke hari.

Realitas pengembangan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa standar dalam ragam kegiatan ilmiah merupakan hal yang patut diperhatikan pembinaannya. Mengapa? Karena sacara ideologis, fungsi bahasa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam UUD’45 khususnya berkaitan dengan fungsinya sebagai penanda identitas nasional belum sepenuhnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial dan kultural.

Indonesia memiliki keberagaman nilai yang sangat luas, terhampar dari Sabang hingga Merauke. Dalam konteks perbedaan nilai yang beragam tersebut, maka perlu dibangun ruang dialog kebahasaan yang lebih terbuka. Ruang ini penting untuk memberikan kesempatan yang sama besar bagi nilai-nilai lokalitas maupun etnisitas dalam memberikan pengayaan terhadap bahasa Indonesia melalui program pembelajaran di sekolah.

Namun demikian, membangun kesetaraan nilai melalui pengembangan kebahasaan tidaklah cukup dengan membangun standar baku kebahasaan, tetapi lebih jauh semangat pengembangan kesetaraan nilai kebahasaan harus diwacanakan secara terus menerus dalam seluruh aktivitas pendidikan tanpa memperkecil arti nilai-nilai yang bersifat lokalitas.

Di sisi lain, ruang dialog publik kebahasaan yang dibangun harus mampu menjadi intrumen perubahan nilai yang dalam jangka panjang memberi pengaruh kuat pada perkembangan kualitas individual, cara berfikir dan berprilaku para siswa kita. Ini berarti bahwa pembangunan aspek kebahasaan harus menjadi perioritas sehingga memungkinkan terbangunnya kualitas komunikasi di dalam berbagai kepentingan dalam konteks pendidikan secara sadar. Penggunaan bahasa yang berkualitas dan benar di dalam semua komunikasi pembelajaran dan rutinitas kehidupan nasional pada gilirannya akan memberikan pengaruh kuat pada perubahan cara pandang para siswa kita terhadap setiap fenomena yang muncul. Hal ini juga paling tidak akan memberikan dampak positif pada pemahaman generasi muda akan nilai-nilai adiluhung budaya bangsa yang termanifestasi melalui Bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila kebijakan revitalisasi penggunaan bahasa Indonesia di semua jenjang pendidikan di lakukan di dalam konteks kesetaraan sistem nilai, tertata secara sistemik dan sistematik. Mengapa harus demikian? Karena bahasa secara umum dapat menjadi inspirasi perubahan yang mampu mempengaruhi perilaku dan cara berpikir para siswa kita dalam mengambil keputusan penting yang bersifat lebih luas. Kesalahan penggunan bahasa di dalam satu bentuk komunikasi seringkali diikuti oleh kesalahan-kesalahan lain yang bersifat struktural dan substantif. Jika dalam sebuah komunikasi pembelajaran tidak terjadi pengertian yang setara antara guru dan siswa, maka tidak tertutup kemungkinan akan menimbulkan kesalahan penafsiran yang berakibat hilangnya makna bahasa yang dimaksudkan dalam komunikasi yang dilakukan. Akibatnya proses belajar hanya akan melahirkan miskonsepsi kurikuler.

Oleh karena itu, hal terbaik yang dilakukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan maupun konflik nilai sebagai akibat kesalahan penafsiran tersebut kita harus menempatkan bahasa sebagai mediator setara yang menghubungkan berbagai kepentingan. Dengan demikian, konflik nilai yang muncul sebagai perbedaan cara pandang maupun cara mengkomunikasikan gagasan baik oleh guru maupun siswa dapat dilihat sebagai sebuah pengayaan bahasa yang bersifat dialektik. Artinya, variasi-varasi yang muncul di dalam konteks kebahasaan dapat difamahi sebagai varian dialek yang mengandung arti yang setara dengan maksud yang sesungguhnya. Ini semua yang harus disadari oleh para guru kita dalam proses pembelajaran di kelas maupun kegiatan-kegiatan kurikuler lainnya di dalam konteks yang lebih luas. Semoga Bulan Bahasa tahun ini menjadikan kita semakin mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: